Polri Minta Bantuan Australian Federal Police
[ Minggu, 07 Februari 2010 ]
JAKARTA - Mabes Polri meminta bantuan Australian Federal Police (AFP) untuk mengungkap tuntas jaringan pembobol ATM di Bali dan kota-kota besar yang lain. Langkah itu diambil setelah call data record (CDR) telepon para pelaku menunjukkan komunikasi yang intensif dengan nomor-nomor telepon di Australia.
''Mereka siap membantu. Hubungan kita dengan Australia sudah sangat baik sejak lama,'' ujar Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Edward Aritonang di Jakarta kemarin. Polisi meminta bantuan AFP untuk melacak asal nomor tersebut. Termasuk, kemungkinan adanya bantuan dari warga negara Negeri Kanguru itu.
AFP selama ini memberikan bantuan terkait penanggulangan pelaku terorisme di Indonesia. Sejumlah pelatihan diberikan khusus kepada personel Detasemen Khusus (Densus) 88 Mabes Polri. Termasuk, pelacakan dan penjejakan buron dengan teknologi.
Ilmu forensik dan cybercrime juga sering dibahas bersama dengan AFP. Unit Cybercrime Bareskrim Mabes Polri berulang-ulang berlatih bersama dengan instruktur-instruktur dari Australia. Sejumlah perwira juga dikirim secara rutin untuk belajar di negeri asal suku Aborigin itu.
''Mereka siap membantu. Hubungan kita dengan Australia sudah sangat baik sejak lama,'' ujar Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Edward Aritonang di Jakarta kemarin. Polisi meminta bantuan AFP untuk melacak asal nomor tersebut. Termasuk, kemungkinan adanya bantuan dari warga negara Negeri Kanguru itu.
AFP selama ini memberikan bantuan terkait penanggulangan pelaku terorisme di Indonesia. Sejumlah pelatihan diberikan khusus kepada personel Detasemen Khusus (Densus) 88 Mabes Polri. Termasuk, pelacakan dan penjejakan buron dengan teknologi.
Ilmu forensik dan cybercrime juga sering dibahas bersama dengan AFP. Unit Cybercrime Bareskrim Mabes Polri berulang-ulang berlatih bersama dengan instruktur-instruktur dari Australia. Sejumlah perwira juga dikirim secara rutin untuk belajar di negeri asal suku Aborigin itu.
Dalam pelacakan sindikat pembobol bank, hingga kini WNA yang diindikasikan terlibat adalah warga negara Bulgaria bernama Marinov. Orang itu sudah lari ke luar negeri. Dua dalang yang lain, orang Indonesia, juga lari ke Hongkong.
Polisi sudah mengeluarkan surat kepada Interpol untuk meminta dikeluarkan red notice di setiap negara yang dicurigai sebagai tempat berlindung buron tersebut.
Menurut Edward, CDR sambungan telepon yang menunjukkan hubungan dengan nomor-nomor telepon di Australia itu diperoleh dari pengembangan tim khusus yang dipimpin Direktur II/Ekonomi Khusus Mabes Polri Brigjen Pol Radja Erizman. Di dalam laptop tersangka juga ditemukan data-data nasabah. Termasuk, rekaman (record) transaksi uang masuk dan keluar. ''Data itu masih ditelusuri. Kalau catatan PIN dan nomor rekening nasabah yang sudah dikantongi pelaku, 264 ribu lebih,'' kata mantan tenaga ahli Lemhanas itu.
Polisi juga sudah berhasil memetakan 32 tempat rawan yang digunakan sindikat untuk membobol data-data nasabah. Lokasi itu tersebar di Kuta, Denpasar, dan Nusa Dua. ''Tapi, sekarang lokasi-lokasi itu sudah disterilkan polda dan perbankan setempat,'' katanya. (rdl/agm)
sumber: siniPolisi juga sudah berhasil memetakan 32 tempat rawan yang digunakan sindikat untuk membobol data-data nasabah. Lokasi itu tersebar di Kuta, Denpasar, dan Nusa Dua. ''Tapi, sekarang lokasi-lokasi itu sudah disterilkan polda dan perbankan setempat,'' katanya. (rdl/agm)
















<< Beranda